Lelaki Misterius
Karya
Indri Andini
Namaku Natasha dan siang ini adalah hari pertamaku
duduk di bangku kelas VII SMP Negeri 179 Jakarta. Sekolah menengah yang cukup
terkenal di daerahku dan letaknya pun tidak terlalu jauh dari rumahku. Tibalah
aku dikelas baruku. Ruangan besar yang diselimuti oleh cat putih disana-sini,
serta tatanan bangku yang amat rapi membuat ku bangga bisa bersekolah disini
dan tak sabar untuk mulai belajar.
“ Wih, lumayan besar juga kelas nya. Gue bisa belajar
di sebelah sini, dengerin lagu di sebelah sini daan..” Imajinasi ku terhenti
karena seseorang menepuk tas ku dari belakang.
“ Permisi, jangan berdiri disini, gue mau lewat”
Cetus seorang anak lelaki bertubuh tinggi tegap sembari menatapku sinis.
“ Lewat gih!” Balas ku.
Batin ku pun ikut bersahut“ Nyebelin banget jadi
orang”
Itu adalah pertemuan pertama kami sekaligus awal
dari masalah dimulai.
Langsung saja ku alihkan pandangan ku kearah bangku
kosong dibelakang anak lelaki itu dan segera menempatinya. Setelah mengambil posisi
duduk yang sudah kuanggap pewe, Aku
pun langsung memperhatikan gelagat anak menyebalkan itu. Tiupan angin yang
seolah ingin menarik rambutnya membuat Ia terlihat tampan. Siang ini terasa
berbeda dari biasanya. Ada perasaan yang yang saat ini tidak aku ketahui.
“ Huh! Buat apa ganteng kalo gak punya etika,
enak-enak nya nepuk tas orang. Bikin kaget aja.” Kata batin ku tak terima.
Kebetulan bangku disebelahku sudah ditempati oleh
seorang anak perempuan yang wajahnya mirip dengan orang Arab. Sepertinya ia
adalah orang yang asyik diajak berbicara. Duh aku sedikit canggung. Mengingat
diriku yang terbiasa menyendiri akhir-akhir ini.
“ Btw nama
lu siapa?” Kataku untuk memecahkan keheningan diantara kita.
Jawabnya sambil membetulkan bangkunya persis kearah
ku “Kenalin, nama gue Aurelly Annasya.
Lu bisa panggil gua Aurel. Oh iya nama lu siapa?”
“ Hmm, nama gue Natasha Putri, panggil aja Natasha ”
Jawab ku berlaga santai
Benar dugaan ku. Rupanya dia adalah anak yang asyik
dan mudah bergaul. Setelah mengobrol cukup lama aku pun bertanya tentang lelaki
misterius yang tadi berbicara padaku. Tetapi ternyata Aurel juga tidak mengetahui
namanya. Kuanggap wajar karena ini masih hari pertama sekolah. Jadi diantara
kami banyak yang belum saling mengenal.
Hari
pertama terasa begitu lama. Sebelum pelajaran dimulai. Bu Aisha yang merupakan wali
kelasku mengadakan pemilihan ketua kelas.
“ Bu, Natasha jago mimpin kelas loh bu. Ayo dong bu
jadiin kandidat” Teriak Aurel disusul keributan siswa lainnya.
“ Tasha, kamu ibu masukkan ke daftar kandidat ketua
kelas ya!” Bu Aisha melirik ku tersenyum.
“
Tapi Bu, Aurel kan cuma berca...”
“
Ssst, udah Bu, terusin aja. Natasha emang suka malu-malu. Yak an Tas?” Kata
Aurel sembari mencubit kecil lenganku.
“ Oke. Berarti habis ini kamu dan kandidat ketua
kelas lainnya akan menyampaikan orasi dadakan ya”
“
Kuatkan hambamu ya Allah ” jerit ku diantara kebisingan kelas.
Bukan Aurel namanya kalau tidak jahil. Ia
mengusulkan namaku menjadi kandidat. Dan mau tidak mau aku harus mengikuti serangkaian
pemilihan. Saat giliran ku maju. Secara tak sengaja aku melihat anak laki-laki
itu tertawa ke arahku. Entah ingin memberi selamat atau jutru mengejek, yang
jelas aku sangat kesal. Tak berselang lama iapun sepertinya menyadari bahwa aku
mengetahui perbuatannya, dan segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu
kelas yang ada di sebelah kiri ku.
“
Ahahaha, tercyduk lu” Tawa ku
berbisik dari kejauhan.
Sepertinya dewi keberuntungan sedang memihak padaku.
Setelah semua suara dihitung namaku memperoleh jumlah suara terbanyak. Itu
artinya saat ini aku menjadi siswa terpenting di kelas. Agak canggung
sebenarnya karena aku belum terlalu mengenal mereka. Hanya Aurel, Nindy, dan
anak lelaki itu.
“
Siapa ya namanya?” Batin ku mulai bertanya.
Lelaki
misterius itu berhasil membuat hidupku tidak tenang.
∞∞
“ Ya ampun susah banget sih nyari tau nama anak itu”
Bahkan
setelah aku menjadi ketua kelas. Aku masih kesulitan mencari tahu namanya.
Memang pantas ku sebut “Lelaki Misterius”. Gelagat nya yang terlihat seperti
orang sombong, selalu menatap orang dengan sinis membuatku tertarik ingin
mengetahui sifat aslinya. Tetapi dia berbeda dengan kebanyakan siswa laki-laki
lain. Ia selalu mengenakan pakaian dengan sangat rapi dan selalu membenarkan
lekuk bajunya yang bagiku sudah rapi. Ia sering memasukkan kedua tangannya ke
kantong celananya. Gayanya yang terkesan dingin membuat ia digemari banyak
siswi lain di sekolah ku.
∞∞
‘Penjelajahan’ ku sepertinya membuahkan hasil.
Setelah tujuh hari dihantui rasa penasaran, akupun berhasil tahu nama anak itu,
Alif Al- Farrazi. Nama yang religius.
Aku
sangat yakin anak lelaki itu adalah sosok orang angkuh dan pendiam. Sangat
terlihat dari bentuk wajahnya. Tebakanku tidak seratus persen salah, tidak
seratus persen benar juga. Dia selalu menatapku
dengan tatapan dingin. Entah gaya menakutkan apa itu. Tetapi aku
menyukainya, Dia dan tatapannya. Aku sangat tertarik untuk dekat dan berteman
baik dengannya. Kalau begitu akan kucoba.
Hari ini aku melihatnya sedang membaca kitab Al-Qu’an
kecil yang sering ia bawa. Sepertinya Al-Qur’an itu sudah menjadi temannya.
Lagi-lagi aku menemukan fakta baru tentang Alif yang membuatku lebih tertarik
dengannya. Setiap bel istirahat berbunyi, ia selalu melaksanakan shalat dhuha.
Berbeda dengan siswa laki-laki lain dikelasku yang kebanyakan mengutamakan
perut mereka ketimbang shalat. Alif sangat jarang bolong shalat.
Tepat
dua bulan bersekolah, akhirnya kami berdua bisa dekat. Meskipun kebanyakan aku
yang memulai percakapan. Cukup sulit untuk bisa dekat dengannya. Ia terlalu
selektif dalam berteman. Mungkin itu yang membuat dia tidak memiliki banyak
teman. Apalagi sahabat. Aku sangat senang setiap berinteraksi dengannya.
Ternyata dia tidak seratus persen angkuh. Hanya saja ia sering malas
bicara, begitulah katanya.
“ Kenapa sih lu selalu duluin shalat dhuha ketimbang
jajan? Padahal kan yang lain denger bel istirahat aja langsung ngibrit ke kantin hahaha” Tanyaku sambil mencolek kasar bahunya.
Diam sejenak, kemudian ia berkata“ Gimana ya,
jelasinnya. Gini deh, kita tu kan hidup di dunia gak selama hidup di akhirat
Tas. Jadi gue pribadi lebih rela shalat tapi perut udah keroncongan daripada
jajan dulu tapi hati ngerasa bersalah karena ngeduluin makan.”
“
Hmm, gitu ya” Jawabku sambil menatap dalam-dalam tatapannya
Alif
kemudian bertanya“ Lu ngerasa gitu juga?”
“ Terkadang sih. Gue masih ngusahain buat ngutamain
shalat ketimbang yang lain.” Jawabku seolah-olah cuek.
Teriak
batinku seakan ingin keluar dari jiwaku. “ Sumpah! Idaman banget sih ni orang”
“
Udah bel, gua duluan” Alif pun kembali memasang wajah dingin.
“
Iya” jawabku.
Kebetulan
saat aku berjalan ke arah kantin, aku dan Alif berpapasan dan kami hampir
bertabrakan. Untungnya tidak jadi. Tetapi apa yang mengejutkan? Ia melempar
senyum untukku sembari berbalik badan dan meninggalkan ku. Kenapa sekarang
jantungku berdebar?
∞-
SELESAI -∞
Komentar
Posting Komentar